Wow, Ada Tintin di Bandara Internasional Kemayoran Jakarta

kemayoran2Tempoe Doeloe – Sejarah mencatat, dunia penerbangan Indonesia pernah berjaya di dunia internasional. Sekitar tahun 1960-an Indonesia sudah memiliki Bandara Internasional yang telah membuka rute penerbangan hingga Australia di Kemayoran. Sementara negara tetangga, seperti Singapura baru mulai mengoperasikan penerbangan internasional melalui Bandara Changi di tahuj 1980-an.

Namun, Bandara Internasional Kemayoran tinggal kenangan. Sejak tahun 1985, bandara tersebut ditutup, landas pacu pesawat kini beralih fungsi menjadi jalan raya, yang tersisa kini hanyalah Menara Air Control Traffic (ATC) Bandara Kemayoran yang masih berdiri di tengah lebatnya semak belukan dan pepohonan di Kemayoran.

“Menara ATC Kemayoran adalah menara pertama di Indonesia. Pemprov DKI Jakarta seharusnya melindungi situs ini. Mengingat nilai sejarahnya begitu tinggi dibandingkan dengan nilai komersilnya,” ujar pengamat Cagar Budaya, Dudi Sudibyo, kepada wartawan tiga lahun yang lalu (10/12/2013).

Tak banyak masyarakat yang tahu, jika menara tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 1973 oleh Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirja ketika itu. Ada kisah menarik terkait Menara Bandara Kemayoran, hingga Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirja menetapkan bangunan tersebut sebagai cagar budaya.

Bandara Kemayoran ini pernah disebut sebagai bandara terbaik di timur kala itu. Yang menarik, di era 1960-an, Bandar Udara Kemayoran pernah menjadi salah satu setting latar komik Tintin yang terkenal, yakni penerbangan 714 ke Sydney, dengan menampilkan pemandu lalu lintas (tower) Kemayoran. Gambar yang ditampilkan pun benar-benar sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Komik Tintin

kemayoran_tintinKomikus asal Belgia, Goerges Remi atau dikenal dengan Herge, menghadirkan menara itu dalam komik yang menceritakan petualangan Tintin dengan ditemani anjing setianya. Dalam komik terdapat tokoh komik Tintin, Kapten Haddock, dan Prof. Calculus di Bandara Kemayoran Jakarta dengan menggunakan Pesawat Qantas.

Setelah komik itu terbit, Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirja baru menetapkan bangunan Menara Bandara Kemayoran sebagai benda cagar budaya DKI Jakarta berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993 yang ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Soerjadi Soedirja. Disebutkan, menara ini merupakan bagian dari Bandara Internasional Kemayoran yang memiliki peran sentral dalam lalu lintas penerbangan komersial internasional.

Kecurigaan muncul dari sejumlah kalangan, yang mengkhawatirkan situs bersejarah tersebut akan dilenyapkan untuk tujuan komersial. Ditambah lagi pintu masuk berupa pagar besi yang telah berkarat senantiasa digembok dan dijaga oleh pihak keamanan, dan melarang masyarakat umum masuk secara bebas. Diperlukan surat untu bisa masuk bandara.

Kecurigaan lain muncul dengan adanya sejumlah bangunan dan gedung komersil hingga puluhan lantai di sekitar lahan tempat menara ATC berdiri. Terbetik kabar, menara itu akan dihancurkan.

Dalam rancangan tata ruang DKI Jakarta, menara tersebut tidak akan dipertahankan, dan akan dijadikan lahan komersial. Padahal, menara tersebut merupakan salah satu bukti penting diakuinya Indonesia dalam dunia kedirgantaraan internasional.

Jadi Cagar Budaya

bandara kemayoran 6Menurut UU Cagar Budaya, jika suatu bangunan telah ditetapkan sebagai cagar budaya, pihak lain tidak bisa sembarang mengalih-fungsikan bangunan dan lahan di sekitar bangunan, karena harus melalui persetujuan DPRD. Kabarnya pula, sudah ada SK Gubernurnya terkait perlindugan cagar budaya di eks Bandara Kemayoran.

Meski bangunan itu tak lagi beroperasi dan statusnya menjadi cagar budaya milik Pemerintah Provinsi DKI, namun kabarnya pengelolaan tanah dipegang oleh pengembang swasta, Ocenia Development.

Jika sampai cagar budaya dihilangkan atau dialihfungsikan, itu sama saja tidak menghargai sejarah bangsanya sendiri. Semestinya dijadikan destinasi untuk tujuan wisata, sekaligus edukasi kedirgantaraan Indonesia. Diharapkan generasi muda sekarang menengok sejarah, dan mengetahui, bahwa dulu Indonesia punya bandara sekelas Changi Airport tahun 1960-an di Kemayoran.

Pemerhati budaya dan wartawan senior bidang penerbangan, Dudi Sudibyo menegaskan, pemerintah perlu melestarikan menara itu. Alasannya, menara itu adalah tonggak sejarang penerbangan internasional. Bangunan itu sebaiknya menjadi Museum Dirgantara sekaligus menjadi ruang terbuka hijau untuk kepentingan publik. (des)

Komentar

komentar