Mohammad Husni Thamrin: Matahari Jakarta yang Tak Ingin Rakyatnya Menderita

JAKARTA – Sejak kecil walau MH Thamrin anak wedana, ia bergaul dengan anak-anak rakyat jelata. Kehidupan Matseni, begitu ia dipanggil semasa kecil, kerap dihadapkan pada kenyataan pahit. Banjir menimbulkan kemelaratan dan penyakit. Ia melihat sendiri betapa becek kampung dan jalan tempatnya bermain. Betapa gelap pada malam hari karena tidak ada penerangan.

“Saya ingin itu semuanya berubah. Jalan-jalan menjadi aspal. Air minum hendaknya, air bersih, kesehatan hendaknya dipelihara, dan jalan mendapat lampu penerangan. Saya hanya mengharapkan agar cita-cita saya itu dapat menjadi kenyataan.” Itulah sepenggal Pidato MH Thamrin di depan Dewan Kota, 27 Oktober 1919 (sumber buku Matahari Jakarta, karya Sokento S.A).

Demikian terungkap dalam Diskusi Betawi Kita yang digelar Komunitas Bambu yang diadakan belum lama ini di kediaman sejarawan muda Betawi JJ Rizal di bilangan Depok. Dalam makalahnya yang berjudul “Orang Betawi, Kemiskinan dan MH. Thamrin”, founder Pustaka Betawi Rachmad Sadeli melakukan napak tilas singkat untuk menelusuri jejak MH Thamrin dari Wedana sampai Gang Kelor.

Mohammad Husni Thamrin, pria kelahiran Sawah Besar 16 Februari 1894 adalah anak dari Wedana Mohammad Tabri Thamrin dan Nurkhamah. Mohammad Tabri Thamrin merupakan anak dari Ort, pria berkebangsaan Inggris yang menikah dengan Nuraini, seorang wanita Betawi.

Ketika 10 tahun Mohammad Tabri Thamrin diajak pergi ke Inggris oleh ayahnya untuk diperkenalkan pada keluarga besar Ort. Dalam perjalanan, Ort meninggal dan menjadikan usaha untuk memperkenalkan anaknya gagal, lalu kembali lagi ke Betawi dengan hasil nihil.

Setelah Ort wafat, Thamrin diadopsi oleh Mohammad Thabri (paman dari pihak ibu), seorang pejabat di Kepulauan Seribu, lalu Thamrin diberi nama Thamrin Mohammad Thabri. Perkawinan Thamrin Mohammad Thabri dengan Nurhamah melahirkan Mohammad Husni Thamrin. Mohamad Tabri Thamrin kaya raya lantaran mewarisi kekayaan dari ayah (Ort) dan ayah angkatnya.

Thamrin kecil yang berkawan akrab dengan kaum kecil terus tumbuh menjadi pribadi cerdas. Berkat kemampuan dan kecerdasannya, ia dipercaya untuk bergabung di Dewan Kota. Nah, ketika di Dewan Kota inilah MH Thamrin menjadi singa podium yang tangguh. Pembelaannya terhadap rakyat kecil dibuktikan dengan berbicara lantang di Dewan Kota.

Yup, itulah MH Thamrin atau biasa disapa Husni, gigih berjuang membela kaum kecil di kotanya. Tak hanya itu, setelah menjadi anggota Dewan Kota, 16 Mei 1927, pria dengan julukan Matahari Jakarta ini bertugas di Dewan Rakyat (Volksraad). Di Dewan rakyat ini Thamrin sibuk untuk menghapuskan Peonale Santie, peraturan yang memberatkan kuli-kuli kontrak.

Pada hari Sabtu, 11 Januari 1941, panas badan Thamrin meninggi. Beberapa kali, ia muntah. Lalu, pagi buta, Thamrim meninggal dunia. Minggu pagi, seluruh Jakarta dan Indonesia berkabung. Penduduk Betawi mengibarkan bendera setengah tiang. Lebih dari 100 karangan bunga memenuhi halaman rumah di jalan Sawah Besar No. 32. Tak kurang dari 200 telegram duka cita diterima. Iring-iringan janazah sepanjang 7 km melalui Sawah Besar, Harmoni, Tanah Abang, dan berakhir di Karet Bivak.

Semua tukang sayur, tukeng kue, kuli-kuli jalanan menghentikan kegiatannya. Sejenak menghormati kepergian orang yang telah banyak memperjuangkan perbaikan kampung, perbaikan nasib dan membebaskan rakyat dari bahaya banjir.

Sejarawan Betawi JJ Rizal berkata, “Jika Thamrin tak meninggal tahun 1941, bisa jadi yang jadi wakil presiden adalah MH. Thamrin, mengingat perjuangannya yang luar biasa.” (desmoreno)

Komentar

komentar