Mpok Iyah: Lewat Pendidikan, Perempuan Betawi Kudu Berkiprah di Masyarakat

Setu Babakan – Perempuan Betawi harus terus membuka dirinya untuk berkembang. Akses terhadap pendidikan pun harus dibuka seluas-luasnya, termasuk melalui beasiswa ke universitas, juga pelatihan atau kursus-kursus. Dukungan dari pihak terdekat sangat diperlukan.

“Para suami juga harus diedukasi agar mau mendorong istri dan anak-anak perempuan mereka berkiprah dan menyumbangkan peran di masyarakat.” Pendapat itu terungkap dalam Diskusi “Orang Betawi, Perempuan dan Peranannya”, diselenggarakan oleh Betawi Kita bekerjasama dengan Ikatan Perempuan Pencinta Seni dan Budaya Betawi (IP2SB).

Diskusi yang berlangsung di Galeri Zona Embrio Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (23 April 2017 ini menghadirkan tiga narasumber perempuan asli Betawi: Fadjriah Nurdiarsih atau yang biasa dipanggil Mpok Iyah, Halimah Munawir Anwar (Pengusaha, Penulis dan Pencinta Budaya), dan Halimatusa’diah (Peneliti LIPI).

Mpok Iyah dalam makalahnya yang berjudul “Perempuan Betawi Masa Kini dan Tantangannya”, memaparkan orang Betawi, perempuan dan peranannya. Mpok iyah adalah perempuan kelahiran Jakarta tahun 1985. Alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) ini juga aktif menulis di website pribadinya, www.mpokiyah.com dan chief editor www.betawikita.id.  Saat ini ia bekerja sebagai editor bahasa di www.liputan6.com.

Pada masa kini, keadaan barangkali lebih mudah bagi perempuan Betawi. Upaya kesetaraan gender dan emansipasi hingga saat ini terus dilakukan, salah satunya terlihat dalam sketsa Firman Muntaco—sastrawan Betawi yang paling terkemuka.

Karya sastra memang dapat dipakai sebagai alat untuk memahami kondisi sosial budaya yang melatarbelakangi si pengarang. Pada dasarnya, pengarang sebagai makhluk sosial sangat dipengaruhi dengan etnis yang membesarkannya. Kita bisa melihat ini misalnya dari Salah Asuhan karya Abdul Muis, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Burung-Burung Manyar karya Mangunwijaya, Para Priyayi karya Umar Kayam, Canting karya Arswendo Atmowiloto, atau Kenanga karya Oka Rusmini.

James Danandjaja dalam Damono (1984) mengatakan, sastra Betawi mengungkapkan secara sadar bagaimana folk-nya berpikir dan mengabadikan yang dirasakan folk pendukungnya pada suatu masa (1991:15). Dalam hal ini, Firman Muntaco sepanjang karier penulisannya, pernah membahas hal-hal yang berkaitan dengan  budaya patriarkal dalam “Kursus Ngetik” yang dimuat Suara Pembaruan pada 16 Oktober 1988. Dalam sketsanya, tokoh perempuan bernama Murni disuruh oleh bapaknya untuk mengikuti kursus mengetik.

“Iya deh, Be. Boro-boro kursus yang cuman sebulan, niatnya sih kalo nanti ude kerja malah pengen ngumpulin duit buat kuliah!”

“Cakep! Berarti pikiran lo maju. Belajar deh ngetik biar getol. Babe kenal si Manan, guru ngetik di sono.”

Hal ini menunjukkan adanya perkembangan peran perempuan, karena berdasarkan penelitian Theresia Tanti Irawanti  dalam skripsi berjudul Pola Sosialisasi Anak Perempuan pada Tiga Keluarga Betawi di Kelurahan Mampang Prapatan pada 1993, anak laki-laki didahulukan pendidikannya, sementara anak perempuan selalu dikebelakangkan dalam urusan pendidikan atau harus mengalah. Jika ada anak perempuan Betawi yang bersekolah, itu pun diutamakan pada sekolah agama atau madrasah, sementara anak laki-laki diutaman sekolah negeri.

Yang lebih menarik, dalam “Pecah Kodok” yang dimuat Pos Kota pada Minggu, 11 Juni 1989, Firman Muntaco mengisahkan kehidupan keluarga Mat Codet. Alkisah Pak Mamat ingin anak-anaknya yang semuanya perempuan bersekolah dan bekerja, tapi keinginan itu tidak disetujui oleh Mpok Mumun, istrinya.

“Aaah, lu sih samenya ame si Nur, kaye kucing dapur, maunya kelinteran di rumah aje, nggak ada pengalaman!” sembur Mat Codet sambil usap-usap rambutnya yang beleletan minyak jelantah. Lalu katanya lagi, “zaman sekarang, lelaki ame perempuan kudu punya kemajuan yang sama. Sekarang zaman pembangunan, tahu enggak. Kalau perlu si Nur biar jadi tukang setir traktor.”

Yasmine Zaki Shahab, seperti dikutip Irawanti (1993: 7) mengatakan, masyarakat Betawi biasanya tidak membolehkan seorang perempuan bekerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah terbatasnya kesempatan kerja serta keterbatasan keterampilan perempuan Betawi. Di lain pihak, laki-laki yang dianggap oleh perempuan sebagai pengambil keputusan merasa tidak suka jika para istri bekerja di luar rumah. Sikap ini tidak berubah sepanjang waktu, baik generasi tua maupun muda masa sekarang.

Lantas, bagaimana cara mengubahnya?
“Secara pribadi, saya menganggap kita bisa mengambil pelajaran dari kisah para pahlawan emansipasi, seperti RA Kartini dan Dewi Sartika,” kata Mpok Iyah.

RA Kartini terkenal melalui surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon yang lantas dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Meski harus putus cita-cita lantaran dinikahkan, Kartini tidak pernah putus asa. Kakaknya, Sosrokartono, mengatakan, “Sepanjang ada buku dan kamu menulis, maka tak ada yang bisa mengekang pikiranmu.”

Ini sejalan dengan ucapan Pramoedya Ananta Toer, “Menulislah agar tidak hilang ditelan zaman, karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Karena itu, nama Kartini harum sepanjang zaman.

Seperti kita ketahui, Kartini terpaksa menolak beasiswa untuk belajar ke Belanda, karena ayahnya tercinta, Bupati Jepara RM Sosroningrat, tidak menyetujuinya. Beasiswa itu kemudian diberikan kepada Agus Salim.

Pentingnya pendidikan juga ditegaskan oleh Dewi Sartika yang mendirikan Sekolah Istri/Sekolah Kepandaian Perempuan/Sekolah Keutamaan Istri di Bandung. Ia mengajak sanak kerabatnya yang perempuan belajar keterampilan seperti memasak, menjahit, dan sebagainya. Sekolah yang digagasnya semakin berkembang, hingga mencapai 251 siswi dengan 12 ruang belajar dan guru-guru profesional pada 1913

“Karena itulah, saya berpendapat perempuan Betawi harus terus mau membuka dirinya untuk berkembang. Akses terhadap pendidikan pun harus dibuka seluas-luasnya, termasuk melalui beasiswa ke universitas, juga pelatihan atau kursus-kursus,” kata Mpok Iyah. (desmoreno)

Komentar

komentar