Apa Kata JJ Rizal tentang Buku Pitung Pituan Pitulung

Depok – Buku Pituan Pitulung lebih banyak dichtung (khayal) daripada wermheit (kenyataannya). Apalagi dalam buku ini disebutkan bahwa Pitung, yang selama ini dianggap pahlawan Betawi, ada tujuh orang.

“Saya yakin Pitung hanya ada satu, yakni seorang tokoh jago main pukulan yang bernama asli Salihun,” kata sejarawan Betawi JJ Rizal kepada orangbetawi.com.

Soal ketidaksetujuannya ini, Rizal menjelaskan, “Metodologi yang digunakan bukan metode yang lazim dalam ilmu sejarah, terutama terkait kritik sumber, sehingga sumber yang tidak valid dijadikan sumber, bahkan sumber utama. Akibatnya, hal-hal yang paling mendasar dari sebuah tulisan sejarah—yakni apa, siapa, di mana, kapan, juga terutama mengapa—kacau, bahkan sesat.

JJ Rizal mempertanyakan, apa kriteria sebuah sumber sejarah. Kalau ada kitab atau naskah, bagaimana menentukan kepantasannya sebagai sumber menulis sejarah,  apakah Kitab al Fatawi dapat dijadikan rujukan?

Pemerhati Betawi itu juga mempertanyakan, apakah menulis buku hanya bersumber dari satu kitab,  seperti al-Fatawi, tanpa ada penyeimbang literatur lain,  atau sekalinya ada dari dunia maya atau internet seperti milist,  facebook yang validasi sumbernya juga masalah,  apakah dengan cara begitu layak sebuah buku disebut buku bermutu?

“Saya ingin penulis Pitung Pituan Pitulung menjelaskan bagaimana bisa antara Pitung yang hidup di abad ke 19 akhir dan awal abad 20 bisa berkait dengan Aria Jipang yang berasal dari sejarah yang jauh berbeda lebih dari dua abad.  Apakah Pitung yang umurnya ratusan tahun atau Aria Jipang?

Sementara itu, Munawar Cholil – Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara, mempertanyakan akurasi sumber yang lemah dalam buku Pituan Pitulung ini. Misalnya, kapan Pangeran Mertakusuma mengumpulkan seluruh lembaran atau catatan naskah Al Fatawi yang “terpisah” itu? Apakah pada 1910 (seperti di hlm 31)? Atau tahun 1930-an (seperti hlm 233)? Atau tahun yang lain (seperti hlm 233-234)?

Selain itu, ia merasa aneh dengan penyebutan bahan untuk pembuatan naskah-naskah Al-Fatawi yang disebut berasal dari (1) Kulit kerbau, kayu, tembikar yang dibuat oleh Ki Meong Tuntu, penulis Al Fatawi; (2) Kulit kerbau, rotan, kayu, dan tulang-tulang ikan, dibuat oleh Syah Fadhilah Khan; (3) Kulit kerbau, lontar, dan lempengan-lempengan tembaga, dibuat Ki Mas Wisesa Adimerta.

Menurut Munawar, ini informasi yang menarik untuk didiskusikan karena merupakan informasi baru untuk bidang filologi dan kodikologi, khususnya di Indonesia. Sebab, sepengetahuan dia, tidak ada naskah di Betawi yang berbahan dasar kulit kerbau, apalagi tulang-tulang ikan.

Yang paling penting, Munawar menekankan, “Bila naskah Al Fatawi digunakan sebagai sumber sejarah, biasanya tidak digunakan sebagai sumber sejarah satu-satunya. Harus dibandingkan dengan bidang-bidang lain, semisal arsip dan wawancara.” (des)

Komentar

komentar