Kesenian Betawi Menuju Indonesiasasi dan Ekonomi Kreatif

Palmerah – Kondisi kesenian Betawi pada masa kini terjadi berbagai usaha dalam penguatan identitas tradisi dari budaya lokal dalam berbagai perkembangan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat Betawi sendiri.

Hal itu dikatakan Julianti Perani, Ph. D, seorang peneliti serta pemerhati budaya yang juga koreografer, dalam Diskusi “Merayakan Pendekar Bahasa Betawi Abdul Chaer”, beberapa waktu lalu, Jumat (8/12/2017).

Dalam makalahnya yang berjudul “Memaknai Betawi di Tengah Pertumbuhan Jakarta”, Julianti menulis, Yasmin Shahab, beberapa dekade lalu, menyebut bahwa terjadi suatu proses yang dinamakan sebagai “Rekacipta Tradisi Betawi” yang berhasil merubah posisi Betawi dari suatu kelompok etnik inferior di Jakarta menjadi kelompok dominan.

“Seniman Betawi dan kreativitasnya dalam kesenian Betawi memperkuat kedudukannya sebagai warisan tradisional dalam konteks kebudayaan nasional kita. Namun ada konteks yang terlupa atau kurang mengindahkan komentar Umar Kayam berkaitan dengan sukses Lenong di TIM pada masa lalu.”

Sudah waktunya, kata Julianti, kita arahkan ke suatu enforcement atau pemberdayaan baru secara menyeluruh dalam konteks lebih besar menuju konteks kehidupan kebangsaan maupun kemanusiaan yang lebih luas. Baik  itu menaikkan potensi seniman dan apresiasi publik, maupun menuju apa yang gencar diperkenakan sebagai ekonomi kreatif.

Kalau mau menaikkan status kesenian menjadi mandiri dan menjadikannya masuk salah satu sektor ekonomi kreatif dalam menggencarkan sektor kesenian menjadi komoditi, perlu dikutip apa yang termuat dalam Kompas 11 November lalu.

“Menurut Badan Ekonomi Kreatif sesuai data statistik maka sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi 7, 38 persen terhadap total perekonomian nasional. Hal ini tak dapat lagi dipandang dengan sebelah mata, namun pejalanannya untuk dapat semakin gemilang di negeri sendiri, masih menemui banyak kendala”.

Memang titik terang baru terdapat di lingkungan fashion, kerajinan dan kuliner, sedangkan yang berhubungan dengan budaya pertunjukan hanya musik pop baru terasa. Pertunjukan sebagai seni baik yang tradisional maupun kontemporer masih banyak ketinggalan.

Proses menjadikan seni pertunjukan maupun kesenian pada umumnya perlu disesuaikan dengan zaman. Sesuai pendapat Umar Kayam, proses Indonesiasasi penting untuk menggempur apresiasi publik atau penonton Indonesia sendiri.

Kemudian baru ke internasionalisasi dengan memperhatikan perpsektif kontemporer baik sebagai seni maupun sebagai komoditi. Seni pertunjukan tradisional yang masih terbatas peminatan pada kepentingan lokal saja perlu diproses kepentingan Indonesiasi di dalam pengembangan apresiasi publik dan terutama pengembangan kreativitas artistiknya.

“Mungkin seniman sekaliber Nano Riantarno dengan Teater Koma saja yang baru bisa mendekati suatu perkembangan yang bisa disebut menuju proses Indonesiasi dan bisa menjadi komoditi untuk menunjang ekonomi kreatif.”

Pemekaran pergaulan dan pendidikan formal dengan yang non-formal menjadi kunci agar seniman teater (asal Betawi) seperti Saiful Anwar dengan Kombet Betawi bisa menjadi “cum laude” seperti yang dsebut Umar Kayam.

Beberapa waktu lalu, ada beberapa potensi seperti seniman (pejabat Pemda) Abdurochim pernah merevitalisasi Wayang Betawi secara multikultural yang menjadi tontonan menarik. Begitu pula teater musikal Betawi yang mulai dikembangkan grup Abnon, dsb. Namun rasanya baru terbatas membangun apresiasi.

“Kreativitas dan inovasi rasanya belum banyak berkembang, lebih-lebih bisa menjadi tontonan rutin tiap minggu dengan penonton yang berjubel.. Begitu pula bagi seniman tari dan musik Betawi yang di berbagai forum misi kesenian keluar negeri sukses dengan meraih berbagai penghargaan, namun kembali di tanah air hanya menunggu order saja,” ungkap Julianti.

Menurut pensiunan dosen IKJ ini, perlu berhati-hati terhadap kegemerlapan eksotik dalam perkembangan seni pertunjukan sebagai hiburan yang membawa kepentingan yang bersifat harafiah saja, cenderung superfisial pada kulit permukaan saja dan juga artifisial yang palsu dan bukan yang sebenarnya. Ada yang mengatakan, gejala itu justru menunjukan keterbelakangan.

“Keunikan dan otentisitas sebagai identitas budaya kurang dapat ditampilkan dalam perkembangan. Pada dasarnya masih bisa diargumentasikan lagi dimana terletak otentisitas dari identitas seni kebetawian. Misalnya pada teater, terutama spontanitas berekspresi dalam kata-kata berbahasa dan berlogat khas Betawi, terutama menampilkan humornya serta kemahiran berpantun.”

Ibarat teater baru yang bersifat kontemporer yang disebut sebagai teater pasca dramatik / post dramatic tanpa teks, teater tradisional seperti Lenong dan Topeng Betawi yang merupakan bentuk teater tanpa teks juga bisa disebut sebagai bentuk pra dramatic, tapi masih bisa naratif dalam ketradisionalannya, dan bisa mendapatkan referensi dari bentuk baru itu dalam berkreasi secara inovatif namun tetap tradisional.

“Sebetulnya disinilah terletak keunikan teater tradisional Betawi, yaitu pada cara bereekspresi dalam bahasa Betawi. Kalau dulu ada Firman Muntaco yang kontinyu menulis di koran mempopulerkan bahasa/dialek Betawi. Maka kini teater tradisional Betawi lah yang melanjutkan dalam melanggeng penggunaan secara lisan bahasa Betawi,” ungkapnya.

Bahasa Lisan Betawi

Menggugahkan generasi muda Betawi maupun yang non Betawi, untuk memasyarakatkan bahasa lisan Betawi yang mulai berkurang penggunaanya karena pergaulan umum. Juga humor atau komedi Betawi yang unik itu, sudah jarang tampil di media hiburan televisi dan film. Tokohnya sudah tidak ada lagi atau belum sepopuler semacam Nori. Bokir, Nasir, Anen dan Benyamin S sebagai ikon Betawi.

Mungkin juga dengan seri TV semacam Si Doel, dll. Menunggu generasi baru untuk menggiatkan kebetawian dalam kehidupan sehari-hari. dan kemudian mempopulerkan sastra Betawi melalui penampilan teater.

Demikian pula dalam esensi menggerakkan maupun menata gerak ke dalam koreografi tari yang khas Betawi dengan gaya perilaku keunikan orang Betawi sudah kabur. Begitu pula pada musik dan aspek lainnya. Aspek multikultural yang merupakan kekayaan menjadi kabur dan tak terkendali di salah satu pihak. Ada yang dikembalikan pada gaya atau pola perilaku budaya migran yang non Betawi.

Kreativitas dalam koreografi perlu ditekankan pada modifikasi menjadi keunikan budaya lokal kebetawian. Konsep multikultural memang sukar untuk dimodifikasi dan dikreatifkan ke dalam suatu karya baru yang baik dalam kesenian.

Di salah satu pihak perlu seniman mapan yang berbobot dan dilain pihak perlu membawa persepsi seni kepada masyarakat untuk memahami, dan akhirnya perlu sosialisasi agar bisa mendapat apresiasi baik ke dalam maupun ke luar. Karya seni hasil reka-cipta serta kreativitasnya bukan urusan seniman saja, tapi juga masyarakat pemiliknya dan masyarakat pendukung lainnya yang lebih luas.

Semuanya perlu persiapan mental dan teknis disertai strategi pembinaan yang dijalankan, baik melalui sektor formal maupun informal, terutama dalam kolaborasi interkultural antara sektor pendidikan, kepemerintahan dan kemasyarakatan.  (des)

Komentar

komentar