Kitab Al-Fatawi, Cerita Si Pitung Versi Iwan Mahmoed Al-Fattah

Tenabang  – Si Pitung, tokoh legenda di Tanah Betawi kembali menjadi perbicangan. Siapakah sebetulnya Si Pitung? Benarkah sosoknya begitu misterius, fakta atau mitos? Bagaimana jejaknya? Adakah bukti sejarahnya?

Berbagai versi cerita tentang si Pitung beredar di sejumlah blog dan komentar di berbagai forum sosial media. Polemik, pro-kontra dan perbedaan pandang terjadi di kalangan pengamat dan sejarawan Betawi. Terutama saat membedah kebenaran cerita Si Pitung.

Hingga saat ini belum ada kajian sejarah yang serius untuk mengupas lebih jauh — secara akademis — tentang sosok Si Pitung, Robin Hoodnya orang Betawi. Karena itu, sangat menarik untuk disimak dan dikaji secara bersama. Setidaknya meracik khazanah Betawi yang tercecer ini.

Ada yang menyebut bahwa Pitung adalah singkatan dai “Pituan Pitulung”, tujuh pendekar alumni pesantren yang dididik oleh H. Napin, Kebon Pala, Tenabang, yang berjuang membela kaum lemah dari penindasan kaum kafir penjajah.

Betawi Kita, sebuah komunitas pemuda Betawi dalam bidang literasi dan sejarah beberapa waktu lalu, Sabtu (25 November 2017) siang, bertempat di Gedung Balai Latihan Kesenian Jakarta Pusat (Jl. KH. Mas Mansyur  No. 130 A Tanah Abang) mengadakan Diskusi “Orang Betawi & Cerita Si Pitung”.

Adapun narasumber yang hadir untuk menyampaikan pandangannya tentang Si Pitung, yakni:  Iwan Mahmoed Al Fattah (Penulis Buku PitungPituan Pitulung) , Dr. Munawar Holil, S.S., M.Hum (Ketua Masyarakat PernaskahanNusantara/Filolog UI), dan GJ. Nawi (Penulis Buku Maen Pukulan, Pencak Silat Khas Betawi). Diskusi ini merupakan seri diskusi Betawi Kita yang ke-25.

“Diskusi ini bukan untuk mengundang atau mempertajam perdebatan sengit, Tapi lebih kepada menambah wawasan baru dan memperkaya khazanah cerita legendaris Si Pitung yang heroik itu. Diskusi ini mencoba mengurai sekaligus napak tilas jejak Si Pitung dengan beragam versinya.,” kata Ketua Komunitas Betawi Kita Roni Adi Sikumbang.

Kitab Al-Fatawi

Dalam buku Pitung (Pituan Pitulung) yang ditulis Iwan Mahmoed Al-Fattah, Pitung atau Pituan Pitulung adalah salah satu organisasi perlawanan rakyat Jakarta yang dibentuk pada tahun 1880 Masehi oleh Kyai Haji Naipin atas saran dari Pejuang Jayakarta dan Sesepuh adat Tempo Dulu. Kyai Haji Naipin adalah seorang yang alim dan juga dikenal sebagai salah satu ahli silat yang handal di kawasan Tenabang.

Pitung didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes seperti ujian jurus terakhir illmu silat, ujian ilmu agama yang sudah mereka pelajari, ujian ilmu tarekat serta diakhiri dengan khataman Al-Qur’an yang diikuti oleh 7 santri terbaik Kyai Haji Naipin.

Setelah dinyatakan lulus maka ketujuhnya dibaiat untuk selalu setia dalam jihad fisabillah, setia terhadap persahabatan, selalu menolong rakyat dan hormat dan patuh terhadap orangtua, ulama dan sesepuh adat.

Nama Pitung yang berarti 7 Pendekar Penolong, mengambil dari inspirasi Surat Al Fatehah yang terdiri dari 7 ayat. Oleh karena itu ke 7 Pendekar ini selalu ditekankan untuk terus menghayati dan mengamalkan kandungan Surat Al Fatehah dalam setiap perjuangan mereka.

Diantara ke 7 Pendekar itu maka kemudian dipilihlah yang paling terbaik untuk menjadi pemimpin, jatuhlah pilihan itu kepada salah satu murid yang paling dicintai KH Naipin, yaitu: Radin Muhammad Ali Nitikusuma, sosok yang alim dan soleh, pewaris silat Kyai Haji Naipin dan silat-silat warisan pejuang Jayakarta.

KH Naipin memang sangat sayang pada sosok ini, karena sejak kecil Radin Muhammad Ali adalah seorang Yatim dan beliau juga tahu bagaimana kisah terbunuhnya ayah Muhammad Ali. Sedangkan ibunya telah menikah lagi dengan salah seorang duda yang mempunyai anak yang berada di daerah Kemanggisan. Kasih sayang ulama sufi ini juga sangat wajar karena dia adalah paman Radin Muhammad Ali.

Kronologis Buku Pitung

Menurut pengakuan Iwan di akun facebooknya, tahun 1989 – 2005  ia melakukan penelitian dan perjalanan mulai dari Desa Jipang (Cepu), Demak, Banten, Cirebon, Jogyakarta, Palembang dan pedalaman wilayah Komering untuk melacak jejak leluhur anggota Pitung. “Dalam kurun waktu ini saya lebih banyak mencari perpustakaan lokal dan juga berusaha mencari naskah naskah yang saya butuhkan.”

Kemudian tahun 2005, Iwan menghentikan penelitian karena menganggap hasil perjalanannya sudah final. Semua penelitian didasari atas kajian pustaka, wawancara, napak tilas, serta keterangan yang ia peroleh secara turun temurun.

Tahun 2007 Iwan mulai bangkit lagi karena merasa ada sesuatu yang hilang, terutama tentang keterkaitan antara Demak-Cirebon-Banten-Palembang-Mataram dengan Jayakarta yang merupakan negeri Pituan Pitulung.

Selanjutnya tahun 2011, Iwan bertemu dengan Novelis sejarah asal Purwokerto yang telah menulis salah satu leluhur Pituan Pitulung. “Pertemuan ini sangat bersejarah karena kami sama-sama membawa data dan fakta yang saling menguatkan.”

Tahun 2012, Iwan mulai mensosialisasikan tentang beberapa sejarah yang terdistorsi khususnya tentang sejarah Jayakarta. Tahun berikutnya (2013) ia didatangi seseorang yang membawa tumpukan arsip arsip lama tentang kiprah keluarga besar Pitung.

“Disini saya sempat syok dan merasa seperti ditampar. Karena apa yang saya cari selama puluhan tahun jawabannya ternyata ada di Jakarta. Saya dulu menganggap Jayakarta bukan bagian dari napak tilas leluhurnya Pitung. Dari sini saya mulai bersikap lebih bijak dalam memahami sejarah,” tulis Iwan.

Tahun 2014  adalah momen bersejarah, Iwan mendapatkan kitab pusaka sejarah Jayakarta. “Lagi-lagi saya seolah merasa seperti dihantam Palu Godam karena jawaban yang saya cari selama hampir 27 tahun ada di kitab ini.”

Di tahun inilah Iwan dengan semangat membara, mulai membaca kitab ini. Satu hal yang cukup menggetarkan, lanjut Iwan, adalah saat ia menemukan kisah Pitung. Sejak itu, dengan tekad yang bulat ia menulis kisah Pitung berdasarkan kitab ini. Selain kitab yang dinamakan Al Fatawi, Iwan juga mencari data data penunjang untuk penulisan sejarah Pitung.

Tahun 2017, setelah 3 tahun habis-habisan menguras pikiran dan fisik serta berkutat dengan banyak data akhirnya semua telah terbayar dengan munculnya buku Pitung.

“Salah satu kekuatan saya menulis Sejarah Pitung karena saya selalu didoakan Emak saya. Tanpa doa beliau tidak akan selesai buku ini. Bukanlah hal mudah menulis buku ini mengingat sejarahnya yang sudah terkubur sejak 1903. Tentu trauma sejarah masih cukup membekas bagi keturunan Pitung.”

Iwan berniat, apa yang ia tulis, semua demi Dakwah Islamiah melalui penyadaran akan pentingnya pengetahuan sejarah. Masalah metodologi penulisan, Iwan mengaku tidak sebaik penulis lain, tapi satu hal terpenting bahwa pesan tersirat atau yang tersurat yang ada dibuku ini, ia berharap kelak bisa diterima oleh masyarakat. (des)

Komentar

komentar