Iwan Mahmoed Al-Fattah Menjawab Kontroversi Buku Pitung Pituan Pitulung

Tenabang – Diskusi Betawi Kita ke-25 kali ini, Sabtu (25/11) lalu yang berlangsung di Gedung Balai Latihan Kesenian di Jalan KH. Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, ini boleh dibilang diskusi “terpanas” yang pernah ada. Sebelum diskusi tersebut digelar, beragam pendapat pro-kontra dari warganet mewarnai sosial media.

Bahkan sempat terdengar kabar, akan ada pihak tertentu yang akan menggagalkan diskusi yang bertema “Orang Betawi & Cerita Si Pitung”. Namun, intimidasi itu hanya isapan jempol belaka.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi itu: Iwan Mahmoed Al Fattah (Penulis Buku Pitung Pituan Pitulung), Dr. Munawar Holil, S.S., M. Hum (Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara/Filologi UI), GJ. Nawi (Penulis Buku Maen Pukulan, pemerjati Pencak Silat khas Betawi).

Di awal diskusi, Bang Iwan – begitu beliau akrab disapa, menjelaskan tujuan ia menulis Buku Pitung (Pituan Pitulung) yang diterbitkan oleh Al Kautsar. “Tiga tahun yang lalu, saya terbiasa menulis tema sejarah Jakarta di Facebook dan Blog pribadinya. Saya pun tertarik untuk mengangkat tema sejarah Si Pitung. Mengingat, saat itu belum banyak yang menggali sejarah Pitung berdasarkan literatur yang ada.”

Selama menggali dan menghimpun sejarah Pitung, pada tahun 2014 Iwan menemukan Kitab al-Fatawi, kemudian tanpa sengaja menemukan cerita Si Pitung dalam kitab yang ditulis oleh seorang ulama yang bernama KH. Ahmad Syar’i. Ulama tersebut, kata Iwan, adalah salah satu anggota Gerakan Pitung Pituan Pitung yang menjadi buruan penjajah Belanda.

“Sejak menemukan Kitab Al Fatawi, saya kembali bersemangat. Lalu, saya terjemahkan dan mengumpulkan referensi lain. Saya mengakui, terbitnya buku ini tidak terlepas dari kontroversi. Namun begitu, saya telah berdiskusi dengan beberapa elemen, termasuk dengan pihak keluarga besar Pitung di Rawabelong,” jelas Iwan.

Secara jujur, Iwan menegaskan, bahwa buku yang ditulisnya, hanyalah sebuah alternatif, dimana saya tidak mengklaim sebagai kebenaran mutlak. Melalui buku ini, kita melihat gambaran Pitung dalam pemahaman masyarakat Betawi.

Iwan berharap, karya tulisnya itu dapat mengangkat harkat dan martabat Betawi, dan semakin menggairahkan pemuda pemudi untuk menggali sejarahnya sendiri. “Ada sesuatu yang hilang tentang sejarah Jakarta, termasuk sejarah Si Pitung. Sampai saat ini saya masih terbuka dengan masukan-masukan dari siapapun yang berkaitan dengan Pitung, baik yang berada di Rawa Belong, Tanah Abang dan wilayah lainya.”

Sekali lagi Iwan ingin meningkatkan kesadaran masyarakat Betawi, bahwa betapa pentingnya sejarah, terlebih yang dimunculkan oleh kaum pribumi nya sendiri. Harus diakui, selama ini sejarah yang beredar ditulis oleh kaum kolonial penjajah, mesti tidak semua salah.

“Saya yakin, masyarakat Betawi adalah masyarakat yang terpelajar dan berwawasan tinggi. Bicara Betawi bukan hanya sebatas maen pukulan, tapi juga pikiran yang memunculkan para intelektual, bukan hanya domestik, tapi juga belahan dunia. Sebut saja Syekh Juned al Batawi, Syekh Ahmad al Batawai, Guru Mansur dan sebagainya,” ungkap Iwan.

Lebih lanjut Iwan mengatakan, perjuangan masyarakat Betawi tidak pernah berhenti, sambug menyambung, dari Fatahillah hingga Pitung. “Saya ingin gelorakan semangat perjuangan itu kembali.”

Iwan menjelaskan, metodelogi penelitian yang ia lakukan, tidak jauh dari dunia akademis. Ia juga tidak menafikan penelitian lain, seperti melakukan wawancara, penelitian naskah, napak tilas ke berbagai tempat, dan meneliti peninggalan-peninggalan.

“Kebetulan sumber terkuatnya adalah Kitab al Fatawi. Penulisnya adalah seorang ulama, sejarawan, politikus dan hafizh Qur’an. Semasa hidupnya, beliau diburu Belanda.”

Rajin Berziarah

Iwan bercerita, sejak tahun 2007, ia sudah menulis sejarah tentang Wali, Kesultanan, dan seputar sejarah Islam. Itu pun diposting untuk blog pribadi. “Ketika itu pengunjungnya sudah mencapai satu juta, tapi kemudian dihack. Banyak teman facebooker yang mendorong saya untuk menulis buku, jangan hanya menulis di Facebook saja,” kata Iwan.

Iwan berkeyakinan, apa yang ditulis ulama terdahulu telah mendekati kebenaran. Ketika melakukan napak tilas ke sejumlah situs atau makam, Iwan mengaku mendapat petunjuk awal, hingga didapatkannya Kitab Al-Fatawi.

Iwan juga ingin sekali mengatahui dimana makam Si Pitung. Itulah sebabnya, ia terus menggali. Selama tiga tahun melakukan napak tilas ke sejumlah makan dan situs, jika ditotal ada 270 tempat yang ia ziarahi.

“Tentu, penggalian saya tentang sejarah Pitung belum final. Bila ada yang perlu revisi, baik judul maupun konten, saya terbuka untuk menerima masukan.”

Iwan teringat dengan guru sejarahnya, selama ada penemuan terbaru jangan pernah berhenti dan takut untuk melakukan interpretasi. Sejarah itu tidak baku dan akan terus berkembang. “Setelah buku Pitung, saya akan kembali menulis buku tentang perjalanan saya mengelilingi kota Jakarta di enam wilayah,” kata Iwan.

Pada akhirnya moderator mengingatkan, diskusi ini diharapkan dapat menjadi trigger, membuka pikiran  dan wawasan orang Betawi untuk senang menulis. Jika ada yang kontra atau tidak setuju dengan buku yang ditulis Iwan Mahmoed Al Fatttah, sebaiknya buat dilawan dengan buku. (des)

Komentar

komentar