Lenong, Dulu dan Sekarang: Maju-Mundur “Cantik”

Palmerah – Dalam rangka menyambut ulang tahun Ahli bahasa dan pekamus Abdul Chaer, sekaligus merayakan kebatawian, Komunitas Betawi Kita bekerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta dan Penerbit Masup Jakarta, mengadakan diskusi perihal kamus bahasa, masyarakat Jakarta, dan Orang Betawi di Bentara Budaya Jakarta, yang berlokasi di Jalan Palmerah Selatan No. 17, Jakarta.

Diskusi yang bertemakan “Merayakan Pendekar Bahasa Betawi Abdul Chaer” itu digelar pada hari Jumat (8 Desember 2017) sore, mulai pukul 15.00 – 20.30 WIB. Sebelum diskusi dimulai, dipertunjukkan Atraksi Maen Pukulan Betawi, Palang Pintu & Tarian Betawi.

Diskusi terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama disampaikan oleh Muhadjir dan Ivan Lanin. Kedua narasumber ini membahas tentang “Abdul Chaer Pekamus Bahasa Betawi dan Indonesia”.

Kemudian sesi kedua, narasumber yang dihadirkan, yakni: Ninuk Kleden Probonegoro dan Julianti Parani. Kedua narasumber ini membedah “Abdul Chaer Membaca Masyarakat Jakarta dan Orang Betawi”

Dalam makalahnya yang berjudul “Memaknai Betawi di Tengah Pertumbuhan Jakarta” yang ditulis Julianti Perani, Ph. D, seorang peneliti serta pemerhati budaya yang juga koreografer, memaparkan perkembangan Betawi dan kesenian Betawi di tengah pertumbuhan kota seperti Jakarta.

Menurutnya, perkembangan Betawi dan kesenian Betawi di tengah pertumbuhan kota Jakarta, sebetulnya dapat dilihat dalam perspektif kontemporer. “Kesenian Betawi dan budaya Betawi yang multkulturalistis dari berbagai proses interkulturisasi dari masa ke masa, akarnya tumbuh pada jaman kolonial di Batavia.”

Namun ketika kita merdeka dalam suasana transisional yang menimpa kehidupan kebangsaan kita, kebetawian khususnya keseniannya sebentar menurun. Kemudian pada jaman Orde Baru berkat Ali Sadikin naik daun dan mengalami revitalisasi kembali.

Kalau dulunya lebih marak variasinya sebagai teater tradisional, diantaranya, ada Wayang Senggol, Wayang Sumedar, Lenong Denes, Lenong Preman, hingga Wayang Sironda.

Sekarang disederhanakan sebagai Lenong Betawi atau ada kecenderungan ke jenis itu saja. Kemudian dari asal-usul dan jenis teater topeng, seperti Topeng Sarian, Topeng Babakan, Topeng Cisalak, Topeng Gandaria, Topeng Tambun, Topeng Jantuk, Topeng Tiga dsb, sekarang cenderung hanya Topeng Betawi. Kemudian ada jenis lain dengan penamaan seperti Jipeng, Jinong, Blantek, Samrah, Tanjidor, Cokek, dan lain lainnya.

“Menurut inventarisasi kesenian bisa jadi banyak, tapi pada kenyataannya samar samar tumpang tindih. Ada pengurangan pada jumlahnya, juga dalam variasi. Bentuknya bisa saling menyerupai, hanya perbedaan pada variasi instrumen musik, cerita, blocking panggung, properti panggung dan konsepsi dalam gerak tari,” tulisnya.

Julianti melihat, kurang variatif dalam keunikannya, sehingga memerlukan kreativitas kesenimanan, maupun usaha pembinaan dari pemerintah yang memahami kondisinya. Kalau pembinaan mau meningkatkan kualitas, maka usaha revitalisasi dengan kreativitas perlu disesuaikan dengan pertumbuhan, baik masyarakat Betawinya sendiri maupun masyarakat Jakarta sesuai perkembangan zaman.

Berbagai pengumpulan data dan penelitian kebetawian tentang berbagai aspek kesenian dengan senimannya, memang telah cukup ada, namun belum cukup untuk menjabarkan keunikan otentisitasnya. Perlu ada pendalaman untuk menjabarkan kekentalan pada bentuk dan tidak penyederhanaan yang cair dan saling menyerupai, agar keunikan dapat ditampilkan dan terasa.

Selanjutnya Julianti berpendapat, proses kreativitas yang luas dan mendalam perlu terjadi. Tidak saja terbatas pada kreativitas exotik gemerlapan untuk menarik perhatian saja, tapi perlu ditekankan pada otentisitas kebetawian yang tergarap. Kekuatan seniman dan kesenian perlu dipertebal esensi seninya dan diperkuat daya kreativitasnya.

Masa Kejayaan Lenong

Sebuah masukan berguna, Julianti mengajak kita untuk menyimak tulisan Umar Kayam ‘Sang Lenong” dalam bukunya Seni Tradisi, Masyarakat (Sinar Harapan , 1981). Pencapaian Lenong sebagai seni Betawi pada masa 1970-an di TlM, oleh Umar Kayam diberi penilaian ‘cum Iaude’.

Nilai lulus yang tinggi itu, Umar Kayam menjelaskan, ”TIM memutuskan untuk menaruh Lenong sebagai salah satu acara tetap (untuk mendatangkan penonton), dan terkandung pula motivasi utama sebagai apresiasi untuk mencoba ikut mencegah supaya Lenong jangan mati’.

Cum Laude pada masa 1970an di TIM itu, karena tiap minggu pentas Lenong itu penuh sesak di Teater Terbuka TIM yang kapasitas penontonnya kurang lebih seribu. Pencapaian dalam pementasan di TlM itu perlu ditekankan pada beberapa faktor penting.

Pertama, tentu pada manajemen Pusat Kesenian TIM. Kemudian seniman dan organisasi kesenian di lingkungan TIM , seperti berjasanya Ikatan Lenong Jakarta dengan tokohnya SM Ardan, Sumantri Sastrosuwondo, Ali Shahab dengan ikon utamanya D. Djayakusuma. Selanjutnya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang menjadi cikal bakal lnstitut Kesenian Jakarta, maupun kelembagaan lainnya.

Umar Kayam melihat gejala Lenong mulai menurun. Kondisi spektukuler di Jakarta itu karena pertumbuhan yang pesat, kemudian Betawi sekali lagi mengalami proses pencarian bentuk baru. Proses yang pada hakekatnya adalah cermin dari proses Indonesia yang lebih besar, yang bergerak dengan hebatnya di seluruh kawasan tanah air.

Waktu Lenong di TIM, bagaimana pula ceritanya, maka lenong mengalami suatu come back benarkah karena kelanggengan pesan cerita si Pitung dan Nyai Dasima saja? “Rasanya tidak. Sebab bila kelanggengan pesan cerita itu sudah cukup mengikat penonton lenong untuk terus mendukung teater rakyat ini, bukankah ia tidak perlu kembang kempis hampir punah tempo hari? (des)

Komentar

komentar